Ketika Dunia Nyata Memanggil: Sebuah Memoir tentang Lepas dari Kecanduan Game Online

Namaku Andi, dan selama lima tahun, aku adalah budak. Bukan budak dengan rantai besi, rajatogel tetapi budak dengan kabel fiber optik. Tuanku bernama “World of Warcraft”, dan ia menuntut segalanya dariku: waktu, uang, kesehatan, dan yang paling menyakitkan, hubungan dengan orang-orang yang mencintaiku. Ini adalah cerita tentang bagaimana aku jatuh ke dalam lubang kecanduan game online, dan yang lebih penting, bagaimana aku merangkak keluar darinya.

Awalnya tidak seperti kecanduan. Awalnya seperti jatuh cinta. Pertama kali melangkah ke dunia Azeroth, aku terpesona oleh keindahannya, oleh kedalamannya, oleh janji petualangan tanpa batas. Aku bertemu teman-teman baru, merasakan sensasi menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Setiap pulang kerja, aku tidak sabar untuk login, bergabung dengan guild, dan melanjutkan petualangan. Awalnya masih wajar, beberapa jam di malam hari. Lalu menjadi kebiasaan. Lalu kebutuhan. Lalu kecanduan.

Aku tidak menyadari sedang kecanduan. Itu bagian dari tipu daya. Dalam pikiranku, aku hanya “sangat menikmati hobi”. Namun ketika atasan menegur karena sering terlambat, ketika tagihan listrik tidak dibayar karena uang habis untuk langganan dan perlengkapan virtual, ketika pacar menangis karena aku lebih memilih raid daripada kencan anniversary—aku tetap bersikeras bahwa aku baik-baik saja. Bahwa mereka yang tidak mengerti. Bahwa ini adalah hidupku, aku berhak menjalaninya sesukaku.

Titik terendah datang dua tahun lalu. Ibuku jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Aku menjenguknya sebentar, lalu pulang dengan alasan “ada kerjaan penting”. Kerjaan penting itu adalah raid malam minggu dengan guild. Malam itu, saat karakterku berhasil mengalahkan bos terkuat dan seluruh guild bersorak di chat suara, ponselku berdering. Dari rumah sakit. Ibu kritis. Aku tiba lima menit setelah ia pergi. Aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.

Kematian ibu menjadi palu godam yang menghancurkan benteng penyesalan yang selama ini kubangun. Di pemakaman, ketika jenazah ibu diturunkan ke liang lahat, aku tidak bisa menangis. Bukan karena tidak sedih, tetapi karena aku mati rasa. Lima tahun bermain game online telah menggerogoti kemampuanku untuk merasakan emosi nyata. Aku bisa bersorak untuk kemenangan virtual, tetapi tidak bisa menangis untuk kehilangan nyata. Di situlah aku sadar: aku bukan lagi manusia, aku hanya avatarku.

Proses penyembuhan dimulai dengan langkah paling sulit: menghapus game. Bukan sekadar uninstall, tetapi menghapus akun. Membakar jembatan agar tidak bisa kembali. Aku ingat persis malam itu, kursor di atas tombol “Delete Account”, tangan gemetar selama satu jam. Guild chat ramai, teman-teman virtual bertanya kenapa aku offline seminggu. Aku mengetik pesan perpisahan, terima kasih atas lima tahun kebersamaan, lalu menekan tombol itu. Dunia lenyap dalam sekejap. Dan aku duduk di kamar gelap, merasa kosong, merasa kehilangan, tetapi juga merasa… lega.

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *